Hikikomori: Menarik Diri
![]() |
| sumber: google |
Anti social-social club, apa maksud dari kata-kata
itu? Apa sama dengan Hikikomori?
Hikikomori adalah fenomena sosial yang sering terjadi di
Jepang dimana seorang remaja atau dewasa menarik diri dari kehidupan sosial dan
mengurung diri di rumah mulai dari seharian hingga bertahun-tahun. Di negara
asalanya, jumlah penduduk Hikikomori
sudah ribuan lebih dan tercatat dalam pertengahan tahun lalu mencapai 600
ribu-an orang. Seorang Hikikomori
akan memutuskan komunikasi dan tidak berinteraksi dengan teman-temannya bahkan
hingga keluargapun mereka bisa menjauh. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Sebelumnya, seorang Hikikomori tidak bersekolah, tidak akan bekerja, ataupun melakukan
aktivitas di luar rumah. Apa mereka tidak bosan ya? Namun, seiring berjalannya
waktu teknologi makin berkembang dan kecepatan internet di sana juga cepat jadi
mereka lebih nyaman untuk melakukannya. Bisa dibilang seorang Hikikomori adalah manusia berbasis online.
Mengapa? Mereka mengerjakan segalanya secara online, seperti membeli pakaian,
belanja kebutuhan, dan ada juga yang bekerja secara online. Hikikomori diantaranya dilatar belakangi
oleh beban pikiran, konflik keluarga, intimidasi, dan lainnya.
Apa Penyebabnya?
Dulu, seusai Perang Dunia II, Jepang yang kalah
perang dan harus hancur lebur terkena bom atom, harus memulai segalanya dengan
kerjas lebih kera atau bisa dibilang memulai dari awal. Saat itu, penduduk
Jepang di era itu dianggap “kaku” yang hanya tau soal kerja dan dapat gaji. Akibatnya,
yang muda menganggap generasi tua kurang imajinasi, tak punya kreatifitas, dan
kesulitan meyesuaikan diri dengan zaman baru. Sebaliknya, generasi tua
menganggap yang muda anak-anak yang mudah patah.
Di Jepang, depresi tidak diakui sebagai suatu
kondisi yang butuh penanganan khusus hingga akhir 1990. Bahkan depresi dianggap
alasan seseorang untuk melakukan cuti dari pekerjaan. Sampai akhirnya ini
menjadi salah satu alasan penyebab dari Hikikomori.
Dilansir Big Think, webiste itu pernah menyinggung bagaimana kehidupan sosial
di Jepang yang disiplin dan penuh tekanan yang pada akhirnya seseorang yag
melalukan beberapa kesalahan dapat berujung pada sikap menarik diri dari
pergaulan sosialnya.
Beberapa faktor penyebab lainnya yang membuat seseorang bisa menjadi Hikikomori adalah adanya masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya seperti di lingkungan sekolah, yaitu bullying, gagal ujian, nilai akademik yang di bawah standar, dan lain-lain. Ada juga faktor dari lingkungan keluarga, seperti mereka terlalu sering di manja, sehingga seorang Hikikomori menjadi terlalu nyaman berada di rumah dan tidak ingin meninggalkan zona aman dan nyamannya. Sampai akhirnya, ada juga yang takut masuk sekolah karena mereka lebih nyaman bermain di rumah bersama keluarganya. Pelaku Hikikomori juga tidak memiliki kepercayaan pada orang-orang sekitarnya.
Beberapa faktor penyebab lainnya yang membuat seseorang bisa menjadi Hikikomori adalah adanya masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya seperti di lingkungan sekolah, yaitu bullying, gagal ujian, nilai akademik yang di bawah standar, dan lain-lain. Ada juga faktor dari lingkungan keluarga, seperti mereka terlalu sering di manja, sehingga seorang Hikikomori menjadi terlalu nyaman berada di rumah dan tidak ingin meninggalkan zona aman dan nyamannya. Sampai akhirnya, ada juga yang takut masuk sekolah karena mereka lebih nyaman bermain di rumah bersama keluarganya. Pelaku Hikikomori juga tidak memiliki kepercayaan pada orang-orang sekitarnya.
Dari penyebab yang sudah kita ketahui, nih. Hikikomori dapat dicegah dan
diobati dengan menjalankan terapi untuk menghilangkan rasa stress dan depresi yang
berlebihan. Jika kalian mempunyai teman yang memiliki penyakit Hikikomori, berikan ia pertolongan dan
bantu mereka untuk berkonsultasi kepada ahlinya. Mulailah dari kita sendiri
untuk membuka mata terhadap penyakit mental dan sudah seharusnya kita membantu
mereka.
Sumber:
https://solusik.com/apa-itu-hikikomori-jepang/
https://tirto.id/hikikomori-ketika-banyak-orang-jepang-mengasingkan-diri-dfgu

Komentar
Posting Komentar